soundofheaven.info Fiction BUKU MARXISME PDF

Buku marxisme pdf

Sunday, June 2, 2019 admin Comments(0)

menyimpang. download karl marx bahasa indonesia pdf - reed - karl marx bahasa menjadikan marx pemikir dan marxisme sebagai pemikiran. buku karangan. Buku Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis Ke inspirasi dasar “ marxisme” sebagai ideologi perjuangan kaum buruh, bukan saja menjadi komponen inti. Lantaran itu, ajaran Marxisme telah dijadikan pegangan kelas, hubungan antara kelas dan perjuangan kelas dalam gagasan pemikiran Marxisme.


Author: BERNA BAUERMEISTER
Language: English, Spanish, German
Country: Turkey
Genre: Politics & Laws
Pages: 740
Published (Last): 04.02.2016
ISBN: 514-3-24520-487-4
ePub File Size: 15.56 MB
PDF File Size: 11.67 MB
Distribution: Free* [*Regsitration Required]
Downloads: 24411
Uploaded by: LISBETH

sebut sebagai pemikiran Marx (Marxisme) itu tidak paripurna sejak semula. Buku karangan Anderson ini terbilang revolusioner. PDF | Artikel ini bertujuan untuk membahas kontribusi teori imperialisme baru bagi Ilmu baru yang dihadapkan dengan perdebatan Marxisme-Realisme. Judul Buku: DASAR NEGARA: Hubungan Pancasila, Marhaenisme, Marxisme dan. KARL MARX – KAPITAL Buku 03; Proses Produksi Kapitalist Secara Menyeluruh BILL BRUGGER (ed) – Marxisme Tiongkok Dalam Pergolakan

Search for: Gimenez — Kapitalisme dan Penindasan Perempuan. Hal ini akan mengaktualkan teologi pembebasan yang belum selesai , dalam bentuk yang bisa jadi lebih canggih. Jadi saya komentari saja semampu saya. Kita sudah lihat bahwa konstruksi konseptual ketuhanan Lacanian agak goyah dan kurang meyakinkan secara logis. Di katakan malas karena ia tidak pernah mau secara militan berpikir ruwet untuk melihat kondisi-kondisi apa yang membuat orang tersebut termiskinkan.

Artinya, bagaimana Marxisme ditafsir berdasarkan image. Pada wawancara dalam Das Kapital Kluge, Oskar Negt menyebut bahwa pada prisipnya, gambaran Marx bisa diterjemahkan dengan baik secara imaginal.

Kisah tentang perbudakan anak di satu penambangan, tentunya, akan menyentuh hati kala dijelaskan melalui image. Ini bisa dijelaskan melalui pengamatan terhadap Das Kapital: Berbeda dengan Eisentein yang cenderung menggerakkan estetika dalam kerangka montase didaktis dan amat meyakini formalisme bahasa sinemanya, Kluge lebih memilih bahasa sinema yang cair untuk berdamai dengan latar pengalaman visual penonton. Ini merupakan langkahan konflik pada puncaknya, karena penonton melalui seluruh pengalaman sebelumnya dengan sinema adalah pra-program… dan filem terwujud bagiku, bukan di atas layar tetapi di kepala penonton.

Kluge menyatakan bahwa ia tidak ingin mendorong segala intepretasi yang partikular pada penonton, hal yang berbeda dari apa yang dipikirkan oleh Eisensetin yang menitikberatkan hasil pada layar. Film is a medium that is able to address the complexity of social-economy-politics of the society in an instance. Cinema as a language, particularly within montage principles, has an ability to take the viewers to an attempt to overcome the complexity of time span and situtation in different locations.

The revolutionary potential of film lies not only in its medium that is able to be reproduced and reach the wider public. The potential of film language, especially its montage, actually is a way of thinking toward reality which is capable to instantly show the contradiction of its language unity.

Juxtaposing the image means to present reality that can be transformed to another reality. News from Ideological Antiquity: However, this Eisenstein project failed to realize. It means how Marxism can be interpreted based on image. The story about child slavery in a mining, of course, will be compelling when explained through image. If the book Capital is articulated in an imaginary way or through image, for Oskar Negt, it will be thrilling.

This can be explained through an examination on Capital: Quite different from Eisenstein who tended to move aesthetic in a didactic montage framework and has so much belief in his cinematic language formalism, Kluge preferred to choose a fluid cinematic language to make peace with visual experience background of the spectators.

That is a very high conflict step, because the spectator through all of his previous experience with the cinema is preprogrammed…and the film realized for me, not on the screen but in the head of the spectator. Kluge asserted that he did not want to push any particular interpretation to the spectator, unlike what Eisenstein thought of, in which he emphasized the result on screen.

Notify me of follow-up comments by email.

Review Buku Marxisme Sebuah Kajian Dinyatakan Punah

Notify me of new posts by email. This site uses Akismet to reduce spam. Juga belum ada seorang ilmuwan materialis yang menyajikan materialismenya secara koheren di dalam keseluruhan ilmu-ilmu yang kita kenal. Perdebatan dalam buku ini, dengan demikian, barulah sekelumit dari medan materialisme, yang melibatkan irisan antara teologi dan sejarah.

Dengan kata lain, dari teologi sampai praksis, ontologi sampai aksiologi. Jika ada yang baru dari buku ini, hal itu bukanlah pada objek materialnya, tetapi pada modus intervensi dan pendekatan yang dipakai. Kebaruan ini ada pada dua ranah sekaligus: Pada ranah materialisme, baru kali ini ada upaya untuk menunjukkan bahwa materialisme yang konsisten dapat menerima ide ketuhanan yang esa meski upaya itu, kita akan lihat, gagal 7 dan upaya untuk menunjukkan bahwa materialisme yang inkonsisten dapat berkontribusi pada suatu teologi dan keberagamaan yang revolusioner.

Caranya adalah dengan melakukan kombinasi yang ganjil dan coba-coba antara ontologi Leibniz, matematika Cantor, dan logika modal. Artinya, dilihat dari kandungannya, Martin Suryajaya sekadar menjiplak mengimitasi struktur kosmologis yang diperkenalkan oleh teologi agama.

Gagasan tentang semesta yang bertatanan, hierarkis, dan manunggal juga tidak lazim bagi para materialis. Dan monisme ini persis merupakan inti dari teologi idealis, yang dalam puncaknya hadir dalam wujudnya mistisisme. Jauh sebelum Martin, Keith Ward, juga menggunakan ilustrasi teori himpunan, menulis: Himpunan dari seluruh kemungkinan itu, sudah tentu, termasuk sub-himpunan seluruh kemungkinan nilai yang terdapat pada semesta yang mana pun.

Ini juga membingungkan, dan secara logis fallacious. Argumen ini dapat dengan mudah dipatahkan dengan alasan berikut. Yaitu, terdapat jarak antara hukum logis dan kenyataan. Agar sesuatu itu mewujud, ia tidak semata-mata dapat dipikirkan, tetapi juga dilakukan. Ia eksis karena ia diciptakan, atau berada dalam suatu kondisi yang memungkinkannya mewujud ke dalam kenyataan.

Pembedaan antara inteligensi dan agensi inilah yang dileburkan, mengakibatkan kerancuan pokok dalam argumen ini. Pembedaan ini mengandaikan validnya konsep penciptaan dari Agen Pencipta, yang adalah bukan sepenuhnya bagian dari Semesta, tetapi berpartisipasi di dalam Semesta.

Di sini kita mungkin mengulang lagi apa yang sudah dikemukakan oleh Al-Ghazali dan Descartes: PUF, [], h. Flammarion, , Proposisi XVI. Proposisi ini selengkapnya berbunyi: Sebab, ekspresi itu meluas mencakup semuanya, tetapi ia mengatasi daya-daya kodrat kita atau ekspresi kita yang ternyatakan jelas dan terbatas. Martin Suryajaya datang dengan pandangan baru: Sementara, materialisme yang konsisten mesti mengandaikan semuanya terlembagakan di dalam struktur material semesta.

Dengan kata lain, tidak mungkin terdapat dualisme antara imanen dan transenden. Argumen ini dengan segera memperlihatkan kelemahan internal, karena inkonsistensinya. Pertanyaan sederhana: Dengan kata lain, selama Dia terlibat dalam penciptaan dan produksi creatio et generatio , sebagai aktus material-Nya. Namun konsepsi ini dapat terbelah ke dalam dua jalur idealis dan materialis.

Konsepsi ini belum pada dirinya materialis. Konsep idealis ini merupakan teologi yang disukai oleh kelas penindas dan pada dirinya anti-materialis. Di sisi lain, terdapat jalur materialis. Jalur materialis ini terbelah antara dua: Perangkat-perangkat itu memiliki berbagai nama: Posisi ini beririsan dengan materialis radikal. Inilah yang disebut dengan transendensi. Ketegangan antara konsepsi ketuhanan yang melangit dan membumi akan tetap menjadi medan perdebatan yang tak selesai bagi Marxisme, sejauh kita para Marxis mau terus terlibat dalam perkembangan-perkemperkembangan-perkembangan kontemporer dinamika umat beragama.

Kita akan membangun suatu model teologi yang secara inheren berciri Marxis. Kita perlu menaruh hormat pada mereka, tetapi sayang sekali kita tidak akan membahasnya di sini. Apa yang ingin saya upayakan di sini, sebaliknya, adalah membidani suatu teologi yang dilahirkan dari dalam rahim Marxisme sendiri—dibuahi oleh materialisme historis, dikandung oleh materialisme dialektis.

Pdf buku marxisme

Orang yang skeptis akan segera memotong: Bukankah bagi Marx agama itu candu? Bagaimana mungkin materialisme historis dan materialisme dialektis mengakomodasi teologi? Segala pertanyaan skeptis tentang teologi Marxis dapat dipilah menjadi dua jenis: Kita akan mengupasnya mulai dari yang pertama.

Penerimaan atas Marxisme tidak mensyaratkan penolakan total atas agama. Artinya, Marxisme tidak mengharuskan kita untuk menganut ateisme. Pandangan macam itu menuntut kita menganut dualisme substansi mengakui ada- Martin Suryajaya, dkk. Namun pengertian semacam itu bukanlah satu-satunya pengertian yang bisa direkonsiliasikan dengan ajaran agama-agama wahyu.

Ini adalah semacam ateisme yang lunak: Realisme ante rem tentang dunia akhirat surga-neraka , misalnya, merupakan kritik tak langsung atas kontradiksi dunia aktual. Apabila baik orang yang bersikap eksploitatif semasa hidupnya di dunia ini maupun orang yang tertindas sama-sama tak memiliki kehidupan setelah kematian — tidak mendapat ganjaran atau balasan atas perbuatan selama hidupnya — maka tentu semua orang akan memilih untuk bersikap eksploitatif. Distingsi teologis tentang surga-neraka, karenanya, merupakan kritik atas pembagian sosial antara kaum tertindas dan penindas dalam dunia aktual.

Solusinya terletak pada realisme in re yang menjadi ciri dasar Marxisme itu sendiri. Ada dua pertanyaan utama yang mesti dijawab oleh solusi tersebut: Mungkinkah kita merancang suatu teologi materialis?

Apakah teologi tersebut berciri emansipatoris? Paparan berikut akan menjawab kedua pertanyaan di muka. Dalam kenyataan seperti itu, segalanya terhubung secara kausal.

Adanya manusia disebabkan oleh komposisi kimiawi planet Bumi. Waktu bermula dari ledakan besar, berakhir pada penyusutan, dan bermula kembali pada ledakan besar yang baru.

Ruang dan waktu hanyalah fungsi dari distribusi materi dan sifat-sifatnya. Dunia yang mungkin adalah, misalnya, dunia dimana Revolusi Industri tidak terjadi, planet Bumi tak pernah ada, atau gajah bisa terbang. Ini adalah ruang yang diakses oleh logika. Namun ini adalah masalah teknis yang berkait soal kemajuan teknologi dan tidak secara a priori menutup kemungkinan bagi komputasi logis tersebut.

Kita dapat membuat taksonominya sebagai berikut: Sebut saja himpunan ini sebagai dunia T. Sebagai bagian dari T, terdapat himpunan kemungkinan logis: Sebut saja himpunan ini sebagai dunia K. Sebut saja himpunan ini sebagai dunia F. Sebagai bagian dari F, terdapat himpunan dunia aktual: Empat jenis dunia ini tersusun secara hierarkis. Dengan memungkinkan pengertian tentang dunia alternatif, model ketuhanan seperti ini jelas berciri emansipatoris dan karenanya berguna bagi praxis emansipasi Marxian.

Pada puncaknya, teologi materialis dimungkinkan sebagai logika. Jika begitu, mengapa model ketuhanan di muka, yang jelas mencakup K dan T, saya sebut berciri materialis? Ada dua hal yang ditolaknya: Jadi materialisme tidak menolak keberadaan sifat-sifat yang tak terlembagakan itu sendiri.

Sifat-sifat yang tak terlembagakan itu bisa ada sebagai entitas abstrak yang keberadaannya dipostulatkan melalui rekonstruksi logis secara abduktif atas sifat-sifat yang terlembagakan. Hanya konsepsi realisme ante rem tentangnya yang perlu ditolak, sembari menyelamatkan konsepsi realisme in re yang baru saja dipaparkan. Melalui teologi materialis alias logika ini, nampak juga bagaimana materialisme historis dapat dijangkarkan.

Kita sudah menjawab dua pertanyaan utama kita.

Bukankah sikap religius dicirikan oleh keimanan atas sesuatu yang tak sepenuhnya diketahui secara kognitif? Menurut hemat saya, dalam teologi materialis macam ini, iman tetap dimungkinkan.

Saya akan kembali pada pengertian Plato tentang pengetahuan: Beriman adalah sikap dari orang yang belum sepenuhnya tahu. Kalau ini yang dimaksud dengan beriman, maka logikawan paling handal saat ini pun pasti beriman. Sebab, seperti telah ditunjukkan, kendati logika dapat memetakan secara garis 21 Martin Suryajaya, dkk.

Kemampuan komputer modern mampu menghitung satu juta baris per detik. Karena iman adalah awal-mula pengetahuan, maka dengan mencari tahu lebih, dengan membangun sains yang lebih akurat, kita mewujudkan iman kita dalam tindakan.

Pdf buku marxisme

Maka inilah kredo iman materialis: Sebuah upaya yang sangat berharga, tentu saja, dalam rangka untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan sekaligus dialog kritis antara kalangan yang berketuhanan dengan kalangan Marxis yang memiliki komitmen sama untuk pembebasan rakyat pekerja.

Martin Suryajaya, dkk. Akan tetapi, tawaran Martin kali ini dapat dikatakan problematis. Ada dua alasan mengapa hal tersebut terjadi. Dalam hal inilah ada yang paradoks dari posisi teologi materialis Martin. Keterbatasan tawaran teologi Martin bukan berarti tidak dapat diatasi. Intensi untuk mengadakan dialog antara materialisme dengan ide ketuhanan masih dapat dilakukan. Dengan kata lain, struktur logika agama itu sendiri harus dilihat sebagai logika materialisme.

Dalam hal inilah kita bisa mengatasi keterbatasan yang ada. Problem Cak Nur yang utama perihal kredo ini adalah bagaimana menjawab mengenai keesaan tuhan. Akan tetapi terdapat kebenaran dari logika yang ditawarkan oleh Cak Nur. Lalu bagaimana materialisme menjelaskan eksepsi dalam realitas itu sendiri?

Semesta kuantum bukan sekedar matematika dalam arti sekedar pengembangan imanen atas konsekuensi aksioma yang ada, namun, lebih daripada itu, terdapat pula proses ilmiah dimana pengukuran serta pembuktian harus dilakukan.

Problem ini pada mulanya muncul sebagai bagian dari upaya menjawab masalah elektron dalam atom-atom dengan cahaya sebagai media pengamatannya. Namun, sayangnya, pada awal abad 20, teori Maxwell menghadapi tentangan. Sebagai contoh, dalam nalar praktis kita common sense , secara berkebalikan, partikel lebih didahulukan daripada gelombang. Efek fotoelektrik justru menunjukan bahwa energi elektron sepenuhnya independen dari intensitas cahaya McEvoy and Zarate , Dalam hal ini, melalui nalar praktis, kita dapat menyimpulkan bahwa perilaku gelombang dapat direduksi sebagai partikel; bahwa gerak gelombang pastilah gerak atas sesuatu, sesuatu yang secara material ada dan bergerak.

Di sini dapat dinyatakan pula bahwa gelombang pada dasarnya tidak ada karena ia hanya sekedar properti atau peristiwa yang terjadi karena sesuatu yang ada. Adalah epistemologi yang kemudian menentukan bentuk realitas yang dilihat. Namun pemahaman ini adalah pemahaman yang salah. Di sini kita harus memperhatikan perbedaan halus antara prinsip ketidakpastian Heisenberg dengan komplementaritas Bohr.

Heisenberg berpendapat bahwa kita tidak dapat membangun posisi dan momentum sebuah partikel secara simultan karena tindakan pengukuran mengintervensi konstelasi yang diukur dan mengganggu koordinatnya. Dengan kata lain, bagi Bohr, di tingkatan sistem mikroskopik atom tidak ada exist dalam dan untuk dirinya sendiri Rosenblum and Kuttner , Ontologi realitas atau materialisme itu adalah ontologi keterpecahan atas yang-satu One , dimana dalam dirinya sendiri materi adalah kekosongan void.

Kekosongan ini harus dipahami sebagai tensi ekstrim, antagonisme atau kemustahilan yang memecah ontologi. Kekosongan ini tidak terkonstitusikan secara penuh dalam konstelasi realitas yang ada.

Dengan kata lain, realitas dalam ontologi kekosongan mengondisikan secara internal eksepsi yang tidak dapat diinklusikan dalam dirinya sendiri. Alih-alih tuhan politeis, tuhan dengan t kecil yang harus dinegasikan adalah tuhan intervensionis, yang menjamin kehidupan manusia dan alam itu sendiri.

Dalam hukum alam, keberadaan tuhan sebagai penguasa pengatur segala memang tidak diperlukan. Berbeda dengan argumen Martin, iman adalah esensial. Bohr menolak posisi ini. Di sini kemudian Bohr menyimpulkan bahwa observasi hanya mungkin ketika kondisi terhadap efek pengukuran tersebut tidak dapat ditentukan.

Ada yang rumit dari posisi Bohr ini. Bagaimana hal ini dapat dipahami? Akan tetapi, determinasi ini bersifat inkonsisten. Semenjak ontologi pada dasarnya adalah keseluruhan yang bukan-keseluruhan non-all , maka determinasi imanen ini membuka kemungkinan untuk salah-baca misperceived.

Namun, bagi iman materialis, tuhan sebagai yang-lain-yang-besar tidak ada dan tidak pernah ada. Mediasi kekosongan menjadi kemungkinan baru dapat dibaca melalui kategori psikoanalisa death drive dorongan-kematian.

Eksepsi dari kekosongan ontologi adalah kondisi dengan dorongan untuk menciptakan suatu objek parsial yang tidak dapat ditempatkan dalam konstruksi ontologi itu sendiri. Kekosongan dalam ontologi menciptakan hasrat akan objek untuk mengisi kekosongan tersebut. Dalam hal ini objek yang dihasrati desired object , via dorongan drive , menjadi objek-penyebab keinginan object-cause of desire yang membuat hasrat akan kekosongan menjadi objek itu sendiri.

Kolektif baru ini adalah representasi dari ekspsi yang mendeterminasi iman. Dalam hal inilah iman yang sifatnya singular menjadi universal melalui ledakan kolektivitas. Lenin , Apakah kelas pekerja adalah sang juru selamat mesiah? Namun, di sini, kita harus membaca gestur Lenin secara dialektis. Bahwa Lenin, sang ateis besar, tengah mengoperasikan logika layaknya iman dalam agama ketika mengajukan peran kelas pekerja?

Kontra teologi Martin: Untuk itu, kredo iman materialis dapat dan harus ditulis ulang: Armstrong, K. History of God: Te 4,year Quest for God.

Marxisme Dan Ketuhanan YME

Reason in Revolt: New York: Algora Publishing McEvoy, J. Introducing Quantum Teory. Icon Books Rosenblum, B. Quantum Enigma: Physics Encounters Consciousness 2nd Edition. Oxford University Press. Organs Without Bodies: Deleuze and Consequence. Less Tan Nothing: Hegel and Te Shadow of Dialectical Materialism. Keberatan saya terhadap Martin hanya pada caranya dalam memperlakukan teologi.

Review Buku Marxisme Sebuah Kajian Dinyatakan Punah

Ibarat seorang pemandu bakat, ia mengaudisi teologi dalam standar-standar yang ia tentukan sendiri sebelumnya. Keberatan ini bukan muncul dari suatu aspirasi konyol akan kesetaraan dan keseimbangan di antara keduanya. Sama sekali bukan ini. Yang ingin saya tekankan adalah bahwa tidak hanya potensi emansipatoris, namun bahkan potensi konfrontatif sistemik telah terdapat secara inheren dalam teologi itu sendiri.

Sehingga, tidaklah perlu kita mengaudisinya sesuai dengan rambu-rambu revolusioner kita. Inilah yang juga akan saya coba tunjukkan melalui tulisan ini: Karena tulisan ini masih berada di sekitar perayaan Natal, maka saya akan pakai teologi Kristen untuk ini. Ide, misalnya, tidak lebih dari mimpi di siang bolong. Agama dan ajarannya, misalkan, akan dilihat sebagai manifestasi sekaligus konstitutif bagi langgengnya struktur dominan di masyarakat.

Epistemologi demikian—yaitu terdapat suatu struktur material yang serba menentukan dan mengatur segala sesuatunya—akhirnya mendudukkan yang material sebagai semata-mata manifestasi dari strukturnya. Akhirnya, tidak akan ada suatu apa pun yang lepas dari jeratan struktur material ini.

Beberapa alasan akan dikemukakan pada bagian berikutnya. Materialisme mesianik Dari penjabaran di atas, setidaknya terdapat tiga keberatan sentral yang saya ajukan: Struktur material diasumsikan utuh pada dirinya sendiri. Hal ini lantas membawa saya pada keberatan kedua, bahwa telah terjadi re-transendentalisasi materialitas.

Dengan kata lain, saat para materialis ini menolak transendensi, mereka malah memindahkan kualitas-kualitas transenden, yang entah dari mana asal-usulnya thus, ahistoris , ke dalam materi. Materi, akhirnya memiliki sifat-sifat transenden.

Other books: BUKU JARIMATIKA PDF

Mirip animisme. Keberatan ketiga saya adalah sifat keter-mediasi-an dari materi yang seakan-akan disepakati oleh keseluruhan pendukung materialisme ini, sekalipun terdapat perbedaan trivial di antara mereka. Manifestasi material dilihat sebagai suatu sistem objek yang diproduksi secara sosial yang, tentu saja, produksinya dihegemoni oleh segelintir orang kelas dominan?

Marxisme itu Sesuatu yang Filemis

Materialisme akhirnya menjadi tidak lebih dari ritual asketis menunggu kedatangan sang mesias. Kemendesakkan untuk merangsek ke luar dari belenggu ini tidak cukup dengan senantiasa tawakal dan menunggu kehadiran sang penyelamat agung.

Perlu upaya yang lebih proaktif dan militan dari sekedar menanti-nanti. Menuju Materialisme Transendental Salah satu upaya teoritik yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah cara pandang terhadap materialisme itu sendiri.

Determinasi aspek material tidak selamanya harus berwajah milenarian, melainkan ia tetap dapat berwajah materialis. Hayles, My Mother Was a Computer: Itulah mengapa saya tekankan di awal bahwa materialisme sebenarnya sudah inheren di dalam teologi itu sendiri. Setidaknya ada beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk mengemban tugas tersebut. Langkah di atas berikutnya membuka jalan bagi langkah berikutnya. Memahami bahwa misteri telah selalu terkandung dalam materi, sama saja melihat materi tersebut sebagai sesuatu yang berkekurangan.

Memahami lubang keabadian dalam suatu materialitas ini agaknya mustahil tanpa berputar pada psikoanalisis Jacques Lacan. Lacan menunjukkan bagaimana logika ketak-terhinggaan dalam keterhinggaan ini adalah logika beroperasinya hasrat manusia: Keberadaan ketak-terhinggaan ini memiliki dua konsekuensi yang sifatnya ambigu: Bayangkan, misalnya, saat keseharian kita diganggu oleh perasaan cinta yang absurd—dalam artian ketak-terhinggaan dan ketak-terjelaskan—maka semuanya akan berantakan!

Kedua, sekaligus sebaliknya, ia merupakan sumber segala kemungkinan yang dapat mengubah materialitas tadi. Inilah tuhan7 materialis: Norton, [] , hal 9. Lihat juga Daniel W. Hal ini utamanya dilakukan dengan menetapkan dimensi ontologis dari materi, yaitu sebagai suatu totalitas yang sepaket dengan negativitasnya, lack-nya. Mengapa demikian? Lalu pertanyaannya kemudian, apabila realitas material yang kita jalani sehari-hari adalah suatu kemustahilan, bagaimana bisa ia dan kita yang ada di dalamnya bertahan?